epidemilogi

penyakit tidak menular

oleh: ahmad mufti

Hipertensi

Definisi

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg.Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolic 90 mmHg.( Keperawatan Medikal Bedah,Brunner & Suddarth )

Secara umum hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi didalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung dan kerusakan ginjal.

Hipertensi merupakan resiko morbiditas dan mortalitas premature, yang meningkat sesuai dengan peningkatan tekanan sistolik dan diastolik. Jumlah penderita hipertensi diseluruh dunia mencapai 972 juta jiwa. Sebanyak 330 juta diantaranya berada dinegara berkembang ( Eropa, amerika, dan Jepang ),sisanya kurang dari 600 juta berada di Negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia.

Dahulu WHO membatasi hipertensi pada tekanan sistol 160 mmHg dan tekanan diastol 95 mmHg, tetapi batas ini diperketat menjadi 140/90 mmHg. Pada sekitar 90 % penderita hipertensi p;enyebabnya tidak diketahui dikenal dengan hipertensi essensial/primer dan jika penyebabnya diketahui dikenal dengan hipertensi sekunder, misalnya disebabkan oleh penyakit ginjal, endokrin, jantung, dll.

Hipertensi sistolik terisolasi adalah tekanan darah sistoliknya 140 mmHg dan diastoliknya kurang dari 90 mmhg dan masih dalam kisaran normal, ditentukan pada usi lanjut, sejalan dengan bertambahnya usia. Tekanan sistolik terus menerus meningkat sampai usia 80 tahun.

Faktor Resiko

Faktor resiko dari hipertensi adalah :

  1. Keturunan, biasanya berdasarkan adanya riwayat hipertensi dalam keluarga/genetic terbukti dengan ditentukannya kejadian bahwa lebih banyak pada kembar yang monozigot daripada heterozigot. Diperkirakan faktor herediter berpengaruh sebanyak 30-40 % pada kasus hipertensi primer. Berdasarkan penelitian, faktor genetik berhubungan pada system rennin-angiostensin-aldosteron (RAA), termasuk reseptor angiostensin II, angiostensinogen, dan renin. Gen lain yang mempunyai implikasi terhadap hipertensi yaitu sintesis endothelial nitrit oksida, G protein reseptor kinase, reseptor adrenergic, dan system transport kalsium. Gen yang mempengaruhi transport air dan garam diantaranya gen anti-porter sodium-hidrogen.
  2. Usia, 50 % sampai dengan 60%, penduduk yang berusia lebih dari 50 tahun memiliki tekanan darah 140/90mmHg.
  3. Jenis Kelamin. Prevalensi hipertensi lebih banyak terjadi pada laki-laki dewasa muda. Namun setelah umur 55, prevalensi hipertensi lebih banyak terjadi pada wanita.
  4. Obesitas (berat badan berlebih). Curah jantung dan sirkulasi volume darah penderita hipertensi yang memiliki obesitas lebih tinggi daripada penderita hipertensi yang tidak obesitas. Pada obesitas tahanan perifer berkurang atau normal, sedangkan aktivitas saraf simpatis meninggi dengan aktivitas renin plasma yang rendah. Resiko tertinggi hipertensi terjadi jika obesitas terdapat di bagian central abdomen.
  5. Konsumsi garam / sodium yang berlebihan, termasuk MSG (Monosodium Glutamat). Pengaruh asupan garam terhadap hipertensi terjadi melalui peningkatan volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan darah. Keadaan ini akan diikuti oleh peningkatan ekskresi (pengeluaran) kelebihan garam sehingga kembali pada keadaan hemodinamik (system perdarahan) yang normal.
  6. Ras, Cenderung yang terkena penyakit hipertensi adalah masyarakat kulit hitam menurut survey di Amerika. Masyarakat Afro-Amerika berisiko dua kali lebih besar daripada Kaukasia.
  7. Kenaikan Serum Lemak. Kenaikan level kolestrol dan trigliserida merupakan faktor risiko utama terjadinya aterosklerosis, sehingga penyempitan pembuluh darah menyebabkan kenaikan tekanan darah. Hiperlipidemia umumnya terdapat pada penderita hipertensi.
  8. Diabetes Melitus. Konsentrasi insulin dalam darah akan menstimulasi aktivitas system saraf simpatik dan merubah nitrit oksida, yang berfungsi sebagai mediasi dari vasodilatasi. Selain itu, efek insulin yaitu hipertropi vascular dan peningkatan reabsorpsi sodium di ginjal.
  9. Status Sosial Ekonomi. Hipertensi umumnya terjadi pada masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah yang kurang diberikan edukasi mengenai pola makan dan aktivitas dalam mencegah penyakit seperti hipertensi.
  10. Stress. Respon fisiologis terhadap stress akan menghasilkan peningkatan aktivitas system saraf simpatik. Kenaikan ini akan menyebabkan peningkatan vasokonstriksi, peningkatan denyut nadi, dan peningkatan pelepasan rennin. Kenaikan rennin akan mengaktivasi mekanisme angiotensin dan meningkatkan sekresi aldosteron. Kedua hal ini yang menyebabkan kenaikan tekanan darah.
  11. Merokok. Nikotin pada rokok berperan sebagai vasokonstriktor yang akan mengakibatkan kenaikan sistol dan diastol pada tekanan darah.
  12. Minuman beralkohol, alcohol mempunyai peran dalam membentuk kiperlrigliceridemia.
  13. Aktivitas Olahraga. Aktivitas fisik dapat mengontrol berat badan melalui pembakaran kalori yang berlebih. Aktivitas fisik dapat menurunkan tekanan darah dan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

Tindakan Keperawatan dan Pencegahan

Mengkaji dengan hipertensi yang baru saja terdeteksi, meliputi pemantauan teliti tekanan darah dengan interval yang sering dan kemudian dilanjutkan dengan jadwal yang rutin.

Intervensi

  1. Penyuluhan Pasien Mengenai PerawatanDiri.

Tujuan penanganan hipertensi adalah menurunkan tekanan darah mendekati nilai normal tanpa menimbulkan efek samping. Kepatuhan terhadap terapi harus dipromosikan dengan cara yang murah. Aturan penanganan meliputi obat anti hipertensi, pambatasan natrium dan lemak dalam diit, pengaturan berat badan, perubahan gaya hidup, program latihan, dan tindak lanjut asuhan kesehatan dengan interval teratur.Tindak lanjut secara teratur wajib dilakukan sehingga proses penyakit dapat dikaji dalam hal pengontrolan dan perkembangannya, serta penanganan yang sesuai. Riwayat dan pemeriksaan fisik harus dilengkapi pada setiap kunjungan klinik. Riwayat harus meliputi semua data yang mungkin berhubungan dengan potensial masalah, terutama masalah yang berhubungan dengan pengobatan seperti pusing atau kepala terasa ringan ketika berdiri.

  1. Kepatuhan dengan Program Asuhan Dini.

Ketidakpatuhan terhadap program terapi merupakan masalah yang besar pada penderita hipertensi. Diperkirakan 50% diantara mereka menghentikan pengobatan dalam 1 tahun pemulihan. Namun bila penderita berpartisipasi secara aktif dalam program, termasuk pemantauan diri mengenai tekanan darah dan diit, kepatuhan cenderung meningkat karena dapat segera diperoleh umpan balik sejalan dengan perasaan semakin terkontrol. Bimbingan, penyuluhan dan dorongan secara terus menerus biasanya diperlukan agar penderita hipertensi tersebut mampu melaksanakan rencana yang diterima untuk bertahan hidup dengan hipertensi dan mematuhi aturan terapinya.

  1. Pertimbangan dan Penatalaksanaan Komplikasi Potensial

Gejala perkembangannya penyakit dan keterlibatan system tubuh lain harus dideteksi dini sehingga aturan terapi dapat dirubah sesuai kebutuhan. Berdasar pada temuan yang diperoleh, obat mungkin perlu dirubah dalam usaha mengontrol hipertensi.

Pencegahan Hipertensi

  1. Mengontrol pola makan

Jauhi makanan berelemak dan mengandung garam. Amerika Hearth Association menyarankan konsumsi maksimal garam sebanyak 1 sendok teh/hari. Sementara lemak memang dibutuhkan oleh tubuh namun dalam jumlah kecil yaitu untuk menjaga tubuh tetap berfungsi karena itu konsumsi lemak disarankan kurang dari 30% konsumsi kalori setiap hari.

  1. Tingkatkan konsumsi potasium ( K ) dan magnesium ( Mg ) pola makan yang rendah potassium magnesium menjadi salah satu faktor pemicu tekanan darah tinggi, buah – buahan dan sayuran segar adalah sumber terbaik bagi kedua nutrisi tersebut.
  2. Tingkatkan aktivitas, dengan berolah raga 30 – 45 menit dalam seminggu.
  3. Sertakan bantuan dari kelompok pendukung.

Dukungan dan partisipasi orang lain membuatnya lebih mudah dan nyaman bagi setiap orang. Penelitian ini menunjukkan dukungan kelompok terbukti berhasil dalam membuat perubahan gaya hidup untuk mencegah tekanan darah tinggi.

Diabetes Melitus

Definisi

Gangguan metabolic kronis yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontroll yang dikarakteristikan dengan hiperglikemia karena defisiensi insulin atau ketidak adekuatan penggunaan insulin. ( Barbara Engram, 1999 )

Merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Glukosa dibentuk dihati dari makan yang dikonsumsi ( Brunner & Suddarth )

Merupakan sekumpulan gejala ganguan metabolisme yang secara genetic dan klinis disebabkan oleh adanya peningkatan gula ( glukosa ) dalam darah akibat kekurangan hormon insulin oleh sel – sel beta pulau langerhans. ( Ilmu Penyakit Dalam ).

Terdapat 2 tipe diabetes :

  1. DM tipe 1 disebut juga diabetes mellitus tergantung insulin ( IDDM ),mulai dengan tiba – tiba dan sebelum usia 30. ini dyakini berkaitan dengan serangan virus lain, respon auto imun dimana tubuh mentriger kerusakan sel beta pancreas, atau respon antigen antibody histokompatibilitas HLA ( Guthrie & Guthrie, 19991 )
  2. DM tipe 2 juga disebut diabetes melitus tak tergantung insulin ( NIDDM ), terjadi paling sering pada orang dewasa, khususnya pada individu kegemukan. Faktor eliologi yang berperan adalah hereditas, penurunan sel islet sensitivitas terhadap glukosa, perlambatan sekresi insulin karena disfungsi sel beta, atau peningkatan tahanan pada insulin karena penurunan densitas insulin reseptor. ( Guthrie & Guthrie,1991 )

Faktor Resiko

  1. Usia. Pada DM tipe 1, puncaknya terjadi pada saat usia 11-13 tahun. Jarang terjadi pada anak-anak di bawah usia 1 tahun dan dewasa berusia lebih dari 30 tahun. Pada DM tipe 2, risiko DM meningkat pada usia di atas 40 tahun. Insidensi meningkat sampai berusia 70 tahun.
  2. Jenis Kelamin. Pada DM tipe 1, risiko antara pria dan wanita sama besar. Pada DM tipe 2 di USA, wanita lebuh banyak yang mengalaminya daripada pria.
  3. Herediter. Pada DM tipe 1, risiko pada saudara kandung berkisar antara 5-10 % sedangkan untuk keturunan berkisar 2-5 %. Pada DM tipe 2, risiko pada turunan pertama (anak atau saudara) berkisar 10-15 %.
  4. Ras. Pada DM tipe 1, risiko untuk orang kulit putih 1,5-2 kali lebih besar dibandingkan dengan bukan kulit putih. Pada DM tipe 2, umumnya terjadi pada penduduk yang mempunyai perubahan gaya hidup, dari tradisional ke gaya hidup modern (ala barat).
  5. Obesitas. Obesitas terkait dengan risiko DM tipe 2. Pada orang yang mengalami obesitas, insulin yang ada hanya sedikit untuk memfasilitasi perubahan glukosa di liver, otot rangka, dan jaringan lemak. Penjelasan yang terkait :

ü Penurunan jumlah reseptor insulin di dalam membrane plasma menyebabkan penurunan ikatan insulin.

ü Post-reseptor di dalam sel insulin bertanggungjawab pada resistensi insulin untuk orang obesitas.

ü Hiperinsulinemia, merupakan suatu kompensasi dari proses adaptasi pada resistensi insulin di jaringan, sehingga peningkatan level dari sirkulasi insulin yang dihasilkan oleh obesitas akan terus terjadi sampai pankreas tidak dapat memproduksi insulin lagi.

ü Makan yang berlebihan memicu hiperinsulinemia

  1. Dislipidemia

Pada diabetes, gangguan metabolisme lemak ( dislipidemia ) yang timbul biasanya triod lipid yaitu hipertrigliseridemia, hipertrigliseriademia terutama kolesterol LDI yang kecil / padat dan rendahnya kadar kolesterol HDL. Dislipediam pada diabetes cukup sering ditemukan meliputi 20 % – 60 % dari populasi pasien diabetes.

Tindakan Keperawatan dan Pencegahan

Intervensi

  1. memonitor TTV
  2. memonitor intake dan output makanan
  3. Timbang berat badan secara teratur
  4. Kaji turgor kulit dan membrane mukosa
  5. Memonitor hasil laboratorium
  6. Tes toleransi glukosa
  7. Tes hemoglobin glikolisap
  8. Anjurkan cara menjaga kebersihan dan kesehatan kulit terutama pada daerah terluka
  9. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
  10. Memperbaiki asupan nutrisi
  11. Mengurangi kecemasan
  12. Memperbaiki perawatan mandiri
  13. Pendidikan pasien dan perawatan
  14. Pemantauan dan penatalaksanaan komplikasi yang potensial

Pencegahan

  1. Pencegahan primer

Semua aktivitas yang ditunjukkan untuk pencegahan timbulnya hiperglikemia pada individu yang beresiko untuk jadi diabetes atau pada populasi umum.

  1. Pencegahan sekunder

Kegiatan menemukan DM sedini mungkin, misalnya dengan tes penyaringan terutama pada populasi resiko tinggi dengan demikian pasien tiabetes yang sebelumnya tidak terdiagnosis dapat terjaring, sehingga dengan demikian dapat dilakukan, upaya – upaya untuk pencegahan komplikasi kalupun sudah ada koplikasi masih reversible.

  1. Pencegahan tersier

Semua upaya untuk mencegah komplikasi atau kecacatan akibat komplikasi itu. Usaha ini meliputi :

Mencegah timbulnya komplikasi

Mencegah progresi daripada komplikasi itu supaya tidak terjadi kegagalan organ

Mencegah kecacatan tubuh

  1. Pencegahan komplikasi luka

Ajarkan klien untuk tetap mempertahankan kebersihan tubuh terutama pada daerah yang mudah tertekan

Ajarkan agar menjaga kulit tetap kering

Ajarkan klien untuk menggunakan alas kaki ( sepatu/sandal ) yang sesuai dengan kondisi kulitnya

Hidup teraratur pertahankan diit dengan cra yang benar

Ajarkan klien dan keluarganya untuk segera merujuk kepada tim kesehatan

Stroke

Definisi

Stroke atau cedera serebrovaskular ( CVA ), adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah keotak. ( Brunner & Suddarth, 2000 ).

Gangguan fungsi otak local atau luas yang terjadi secara mendadak dan cepat berlangsung lebih dari 24 jam, dapat mengakibatkan penderita meninggal karena gangguan peredaran darah otak. ( WHO,2001 )

Menginfestasi klinik gangguan fungsi serebral baik local maupun global yang terjadi secara cepat cepat dan berlangsung lebih 24 jam atau berakhir dengan kematian tanpa ada sebab lain selain gangguan vaskuler. ( www.harry.wordpress.com,2007 )

Faktor Resiko

  1. Hipertensi, dapat menyebabkan aterosklerosis. Aterosklerosis yang terjadi pada embuluh darah otak dapat memicu terjadinya stroke iskemik.
  2. Jenis Kelamin. Insidensi lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita.
  3. Ras. Ras kulit hitam, khususnya masyrakat Afro-Amerika mempunyai insidensi stroke yang lebih besar. Hal ini terkait dengan tingginya insidensi hipertensi pada kelompok masyarakat tersebut.
  4. Merokok, menaikkan risiko stroke sebanyak 50 %.
  5. Diabetes, menaikkan risiko stroke iskemik sebanyak 2,5-3,5 kali. Hal ini disebabkan adanya resistensi insulin.
  6. Polycythemia dan thrombocythemia menaikkan risiko stroke iskemik.
  7. Kenaikkan lipoprotein menjadi factor risiko untuk stroke iskemik.
  8. Perubahan fungsi jantung menaikkan risiko stroke iskemik.
  9. Hyperhomocysteinemia menjadi factor risiko untuk stroke iskemik.
  10. Fibrilasi atrial nonrheumatik menaikkan insidensi stoke iskemik
  11. Diabetes, dikaitkan dengan aterogenetis terakselarasi
  12. Konsumsi Alkohol. Alkohol mengandung kalori yang tinggi, tapi nutrisi lain kurang mencukupi. Selain itu, mempunyai peran dalam membentuk hipertrigliceridemia

Intervensi

  1. Memperbaiki mobilitas dan mencegan deformitas
  2. Posisi tidur yang tepat, pasien harus tetap datar diatas tempat tidur
  3. mencegah adduksi bahu
  4. mencegah rotasi panggul
  5. Posisi tangan dan jari diposisikan saling mengalami fleksi
  6. Mengubah posisi, pasien harus merubah posisi stiap 2 jam sekali
  7. Latihan, ekstremitas yang sakit dilatih secara pasif dan berikan rentang gerak penuh 4 – 5 kali/hari
  8. menyiapkan ambulasi
  9. Mencegah nyeri bahu
  10. Mencapai kemampuan perawatan diri
  11. Mendapatkan control kandung kemih
  12. Memperbaiki proses berpikir
  13. Mempertahankan integritas kulit
  14. Meningkatkan koping keluarga, melalui penyuluhan kesehatan.

Pengelolaan

Pengelolaan terdiri dari 3 bagian penting pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi

¤ Pencegahan

  1. Perilaku hidup sehat

Aktivitas fisik kehidupan sehari-hari seperti berjalan-jalan

Berat Badan ideal

Pengaturan gizi sesuai kebutuhan

Berhenti merokok

Menyalahgunaan obat dan alkohol

  1. Pengobatan faktor resiko, seperti hipertensi

¤ Pengobatan

Prinsip pengobatannya yaitu :

1. Atasi etiologinya

2. Penderita pengobatan penumbra ( daerah dipinggir kerusakan dimana CBFnya masih dapat dihitung dan bisa dipengaruhi dengan meningkatkan CBF

3. Atasi latarbelakang patofisiologinya

4. Fisioterapi

5. Perawatan

¤ Rehabilitasi

Pada stroke nonhemorogik dilakukan mobilisasi secepatnya. Pada SNH, fisioterapi dilakukan 2 minggu setelah penderita sadar dan tidak ada kontraindikasi.

Kanker

Definisi

Kanker adalah sel yang telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya,sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak teratur.( jacquelyw g.black.2005 )

Kanker ialah terganggunya sel dikarenakan malfungsi atau mutasi dari gen sehingga sel membentuk proliferasi dan diferensiasi.( Heather,RN,Ph.D dan kathryen L.Mc Cancy RN,PhD. 2000 )

Kanker adalah segolongan penyakit yang ditandai dengan pembelahan sel yang tidak terkendali dan kemampuan sel-sel tersebut untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak terkendali tersebut disebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembelahan sel. Beberapa buah mutasi mungkin dibutuhkan untuk mengubah sel normal menjadi sel kanker. Mutasi-mutasi tersebut sering diakibatkan agen kimia maupun fisik yang disebut karsinogen. Mutasi dapat terjadi secara spontan (diperoleh) ataupun diwariskan (mutasi germline). ( www.wikipedia.com, 2007)

Faktor Resiko

1. Penggunaan tembakau

Rokok cigarette meningkatkan risiko kanker bladder, pancreas, ginjal, larynx, kavum oral, dan esophagus. Resiko ini akan lebih besar jika pekerja abses ialah seorang perokok dan jenis kanker yaitu:kanker paru-paru,kanker mulut dan kerongkongan.

2. Riwayat keluarga

Beberapa kanker payudara berhubungan dengan suatu mutasi genetic yang khas,yang lebih sering di temukan pada beberapa kelompok etnik dan keluarga untuk menderita kanker payudara mempunyai peluang 80-90%.kanker lainnya yang cenderung diturunkan dalam keluarga adalah kanker kulit.

3. Kelainan kromosom

Seorang dengan sindrom down yang memiliki tiga buah kromosom 21,memiliki resiko 12-20 kali lebih tinggi untuk menderita leukimia akut.

4. Factor lingkungan

Pemaparan dari sinar ultra violet,terutama dari sinar matahari menyebabkan kanker kulit.kemungkinan yang terjadi menderita kanker yaitu 30% dan polusi udara juga dapat menyebabkan kanker sekitar 3%.

5. Radiasi ultraviolet

Pemaparan jangka panjang terhadap radiasi ionisasi mempengaruhi seseorang untuk menderita kanker sel darah,termasuk leukemia akut.

6. Diet

Diet yang banyak mengandung Xenobiotics, termasuk zat racun, mutagen, dan karsinogenik. Zat ini dapat bereaksi dengan makronukleus sel, seperti protein dan DNA sehingga menyebabkan kerusakan sel. Mekanisme pertahanan tubuh menghadapi bahaya ini dilakukan melalui enzym detoksifikasi dan antioksidan.

Substansi sumber diet yang mengandung racun karsinogenik diantaranya termasuk hasil produksi dari proses pemasakkan lemak, daging, dan protein. Substansi tumbuhan yang mengandung karsinogenik alami contohnya alkaloid. Kafein tergolong jenis alkaloid yang juga dikenal sebagai trimetilsantin. Kafein banyak ditemukan dalam the, kopi, soft drink, coklat, minuman berenergi, dan obat-obatan untuk sakit kepala, flu, alergi. Sampai sejauh ini, belum ditemukan adanya hasil penelitian secara ilmiah, yang menyatakan konsumsi kafein dalam taraf normal berbahaya bagi kesehatan. Namun, konsumsi kafein secara berlebihan dapat menimbulkan banyak masalah, seperti warna gigi berubah, bau mulut, meningkatkan stress, serangan jantung, kemandulan pada pria, gangguan pencernaan, kecanduan, bahkan penuaan dini. Kafein juga merupakan salah satu penyebab sakit kepala.

Hasil dari beberapa penelitian menyebutkan bahwa mengkonsumsi kopi dalam jumlah berlebihan di pagi hari dapat meningkatkan tekanan darah, tingkat stress, dan memicu pruduksi hormone penyebab stress salama 1 hari penuh. Kafein dam kopi merangsang kelenjar-kelenjar adrenal, yang dapat meningkatkan salah satu faktor penyebab stress setelah 18 jam. Kopi mengandung sebuah unsure yang disebut terpenoid, yang diketahui dapat meningkatkan kadar kolestrol darah. Hal ini dapat menyebabkan pembuluh darah arteri tersumbat dan akibatnya pembuluh darah ini bekerja terlalu keras.

Karsinogenik yang paling relevan dihasilkan dari proses pemasakan yaitu Polisiklik Aromatik hydrocarbone benzo(a)pyrene dan amino aromatic heterosiklik yang berasal dari protein daging.

Nitrat yang digunakan dalam pengawetan ikan dan daging berpotensi menimbulkan reaksi yang berbahaya pada saat makanan dimasak. Contohnya, kandungan nitrit pada babi saat dimasak menghasilkan asam nitrit, yang akan bereaksi dengan amino(turunan dari ammonia) untuk membentuk dimethylnitrosamine(DMN). Reaksi ini menimbulkan keasaman pH. Diet garam berkontribusi dalam mempertinggi reaksi ini.

Proses ingesti lemak berkontribusi terhadap produksi karsinogen dalam tubuh dengan cara meningkatkan jumlah cairan empedu dan metabolisme kolestrol di feces. Metabolisme seperti ini, termasuk deoksikholik dan asam lithokholik ditemukan dalam quantitas besar pada populasi yang mengkonsumsi tipe diet berlemak ala barat. Tipe diet seperti ini umumnya mengalami kanker colorectal.

Faktor diet yang paling signifikan sebagai proteksi kanker yaitu serat(fiber). Serat mengacu pada sisa dari dinding sel tumbuhan yang tidak terhidrolisis oleh enzim digestive manusia. Diet rendah serat berhubungan dengan risiko kanker colon. Diet tinggi serat berhubungan dengan rendahnya level hormone sex di plasma (hormone sex-pengikat globulin, bebas estradiol, bebas testosteron), menyebabkan pengurangan di dalam bioavailabilitas hormone sehingga menurunkan risiko kanker yang diakibatkan dari ketergantungan hormon. Serat terdiri dari dua jenis; serat larut air dan serat tidak larut air.

Serat larut air efektif untuk menurunkan kolestrol. Jenis serat ini diantaranya; jagung, beras tumbuk, ketan hitam, gandum, kacang hijau, kacang merah, kacang kedelai, tauge, sawi putih, kol, wortel mentah, apel, pisang, jambu, jeruk, sirsak. Serat larut air mudah difermantasikan oleh bakteri colon atau lactobacillus menjadi asam lemak rantai pendek atau short chain fatty acid dan gas (flatus). Asam lemak rantai pendek mampu mengikat asam empedu dalam usus. Berkurangnya asam empedu ini akan memperlambat penyerapan lemak, yang berarti menurunkan kadar kolestrol darah. Selanjutnya, kelebihan dari asam empedu di pencernaan akan dibuang bersama feses. Untuk memudahkan pengeluaran feses, perlu bantuan konsumsi serat tidak larut air. Jenis serat ini diantaranya; sayuran tua, lobak, terong, radish, apel, kulit buah, bekatul.

Asam lemak polyunsaturated siap dioksidasi untuk menghasilkan radikal bebas dan peroksida yang akan meracuni sel dan berhubungan terhadap perkembangan tumor. Asam lemak omega 3 (contoh lemak ikan, minyak hati ikan cod) berpengaruh dalam menurunkan jumlah dan ukuran tumor dan menaikkan waktu tahanan terhadap kemunculan tumor. Efek proteksi kanker disebabkan oleh pengaruh aktivitas enzim dan protein yang terkait dengan tanda pada intraselular dan proliferasi sel. Atau juga oleh penurunan suplai darah ke sel tumor oleh pengaturan efek PAF(Platelet-Activating Factor). Rusaknya racun peroksida atau radikal bebas juga tergantung oleh enzim yang berisi selenium. Selenium terkait dengan penurunan mortalitas pada kanker paru-paru, colon, rectal, prostat. Efek proteksi ditunjukkan dengan mengkonsumsi selenium sebanyak 200 nano gram/hari.

Diet dalam jumlah mikro dari sumber tanaman seperti isothiocyanates, dithiolthiones, allyl sulfides, coumarins, dan lactones berkaitan terhadap proteksi dalam melawan toksik dan kanker. Substansi ini dikenal dengan nama Chemoprotectors. Chermoprotectors menyebabkan enzim detoksifikasi xenobiotik endogenous, yang akan menginaktivasi karsinogen dan toksik untuk memproteksi berbagai jaringan.

7. Konsumsi Alkohol

Konsumsi alcohol menaikkan angka kejadian pada kanker mulut, pharynx, larynx, esophagus, liver, payudara, dan colorectal. Mekanisme peningkatan angka kejadian pada kanker payudara tidak diketahui hubungannya , namun dapat dibedakan pada massa sebelum dan setelah menopause. Perkiraan mekanismenya seperti ini :

ü Ketidakmampuan hati membersihkan tubuh dari karsinogen (termasuk estrogen) meningkatkan kerusakan hati.

ü Peningkatan kerusakan hati (hiperinsulinemia), menyebabkan perkembangan lesi payudara pada tahap pre-kanker.

ü Perubahan system imun

ü Adanya interferensi dengan permeabilitas membrane sel di jaringan payudara.

ü Interaksi antara terapi penggantian estrogen (ERT dan HRT) dan alcohol sebagai suatu kesinergisan kenaikan level payudara terhadap sirkulasi estrogen.

ü Aktivasi reseptor 1 faktor perkembangan insulin di dalam jaringan payudara karena hiperinsulinemia terkait dengan alcohol .

Intervensi Tindakan Keperawatan

1. Diskusikan lokasi faktor resiko kanker secara spesifik.

2. Identifikasikan tanda dan gejala di lokasi kanker secara spesifik.

3. Beri klien penkes berhubungan dengan diet, nutrisi, dan gaya hidup.

4. Menyediakan informasi dengan yang sangat sensitive dan tepat untuk klien.

5. Menyediakan daftar informasi.

6. Memberikan rasa nyaman pada klien.

7. Kaji dan berikan perawatan kesehatan pada jaringan yang belum terkena kanker atau lakukan pendeteksian sejak awal.

8. Identifikasi tanda dan gejala yang mengganggu sistem kesehatan.

9. Identifikasi faktor lingkungan untuk membantu klien : berhenti merokok, penurunan stress, kontrol berat badan dan diet.

Pencegahan

1. Makan banyak sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian seperti tempe, tahu dan makanan yang banyak mengandung serat. Paling tidak satu atau dua kali sehari mengkonsumsi sayuran hijau dan buah-buahan.

2. Hindari berat badan berlebihan atau kegemukan. Timbanglah berat badan 1 kali seminggu. Penelitian menunjukkan, akibat kegemukan, risiko terjadinya kanker lebih besar khususnya kanker payudara, rahim, usus besar, lambung, ginjal, serta kandung empedu.

3. Kurangi terlalu banyak makanan gorengan dan juga yang mengandung protein dan lemak tinggi serta jeroan.

4. Batasi makanan yang diolah dengan suhu tinggi dan lama atau dengan pengolahan tertentu yang dapat menimbulkan prokarsinogen seperti makanan yang diasinkan, diasap, dibakar, dipanggang sampai keluar arang (gosong) . Yang terbaik adalah makanan yang direbus.

5. Hati-hati dengan penggunaaan pemanis buatan, pewarna makanan serta zat pengawet yang berlebihan. Makanan terbaik adalah makanan segar.

6. Makanan dijaga kebersihannya, beraneka ragam, dan bebas dari zat cemaran lingkungan.

7. Sebaiknya tidak berlebihan mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol dan juga merokok

8. Kegiatan fisik dengan olahraga secara teratur disertai kesehatan mental dan rohani merupakan bagian terpadu dalam upaya pencegahan penyakit kanker.

http://www.mer-c.org/mc/ina/ikes/ikes_0804_mencegahkanker.htm

PPOM ( PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF MENAHUN )

DEFINISI

Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM) adalah suatu penyumbatan menetap pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh emfisema atau bronkitis kronis. www.medicastore.com/med/

FAKTOR RESIKO

  • PPOM lebih sering menyerang laki-laki dan sering berakibat fatal.
    PPOM juga lebih sering terjadi pada suatu keluarga, sehingga diduga ada faktor yang diturunkan.
  • Usia. Usia berpengaruh terhadap perubahan struktur paru-paru, otot pernapasan. Usia mempengaruhi elastisitas paru-paru. Paru-paru menjadi lebih bulat dan lebih kecil. Penurunan fungsi alveoli dihasilkan dari hilangnya struktur penyokong alveolar dan hilangnya septum intraalveolar. Perubahan seperti ini tampak pada klien emphysema. Dinding alveolar yang kecil berkontribusi terhadap hilangnya jaringan pemisah alveolar dan kapilari alveolar. Kapilari yang kecil mempengaruhi pertukaran gas dan menurunkan level oksigen di arteri. Penurunan PaO2 sebanyak 4mmHg setiap decade kehidupan dimulai setelah usia 20 tahun. Perubahan area pada pertukaran gas menurun dari 80m2 pada usia 20tahun menjadi 65-70m2 pada usia 70 tahun. Emphysema biasanya terjadi pada usia tua, meskipun dia bukan perokok.
  • Herediter. AAT (Alpha-1 Antitrypsin) adalah serum protein yang diproduksi hati dan normalnya ditemukan pada paru-paru. Abnormalitas gen AAT menjadi pemicu COPD. Defisiensi AAT mengakibatkan emphysema, bronchitis kronik, bronchiectasis. Biasanya terjadi pada usia 40 tahun, dan lebih banyak menyerang wanita daripada pria.
  • Merokok. Merokok akibatkan obstruksi jalan napas sebanyak 15 %. Sekitar 80-90 % kematian akibat COPD di USA terkait karena merokok. Rokok mempunyai implikasi terhadap angka kejadian emphysema, bronchitis kronik, kanker (paru-paru, mulut, pharynx, larynx, esophagus, pancreas, ginjal, perut, serviks, dan bladder/kandung kemih). Saat merokok, sekitar 4000 zat kimia masuk ke dalam paru-paru. Zat yang paling berbahaya yaitu 3,4-benzpyrene. 43 komponen zat lainnya teridentifikasi sebagai zat karsinogen, co-karsinogen, pemicu tumor, dan mutagen.
  • Nikotin pada rokok sebenarnya bukan karsinogen, tapi mempunyai efek merusak. Nikotin akan menstimulasi system saraf simpatik, menghasilkan kenaikan denyut nadi, kenaikan vasokonstriksi peripheral, kenaikan tekanan darah, dan menaikkan beban kerja jantung.
  • Karbon Monoksida (CO), mempunyai daya afinitas yang besar terhadap Hemoglobin daripada oksigen, sehingga hal ini akan mengurangi kapasitas oksigen dalam darah. Perokok akan menghirup kadar oksigen yang lebih rendah daripada normal (seharusnya), sehingga ia akan kekurangan oksigen pada alveolarnya. Selain itu, kebutuhan jantung akan oksigen meningkat karena efek stimulus dari nikotin terhadap system saraf simpatik. Karena kapasitas oksigen dalam darah berkurang, jantung harus memompa lebih cepat untuk mencukupi suplai jaringan akan oksigen. CO juga mempengaruhi perubahan pada psikomotor, pengambilan keputusan, dan ansietas.
  • Efek iritasi dari rokok akan menyebabkan hyperplasia sel, termasuk sel goblet sehingga mengakibatkan peningkatan produksi mucus. Hiperplasia sel akan mengurangi diameter jalan napas dan menyulitkan pembersihan secret. Rokok akan mengurangi aktivitas cilia dan menyebabkan kehilangan pada sel cilia. Efeknya yaitu batuk, terjadi akumulasi sputum, dan paralysis. Rokok juga akan menyebabkan dilatasi yang abnormal pada ruang udara bagian distal dan merusak dinding alveolar. Sel banyak yang bertambah besar, atypical nuclei, dalam hal ini sel berada dalam kondisi pre-kanker. Setelah setahun merokok, terjadi perkembangan terhadap fungsi jalan napas. Pada tahap awal perubahan berupa inflamasi disertai edema mukosa. Kemudian, akan terjadi Peribronchiolar Fibrosis.

  • Infeksi. Infeksi saluran pernapasan berkontribusi tarhadap perkembangan COPD. Infeksi akan mengubah mekanisme pertahanan tubuh normal, yang akan membuat alveoli dan bronkiolus lebih rentan untuk terkena injuri. Contoh organismenya yaitu Haemophilus ifluenzae, Streptococcus pneumoniae, dan Moraxella catarrhalis.
  • Polusi Udara. Bekerja di lingkungan yang tercemar oleh asap kimia atau debu yang tidak berbahaya bisa meningkatkan risiko COPD.
  • Kebiasaan merokok pengaruhnya sekitar 10-15% menderita PPOM. Angka kematian karena emfisema dan bronkitis kronis pada perokok sigaret lebih tinggi dibandingkan dengan angka kematian karena PPOM pada bukan perokok.
    Sejalan dengan pertambahan usia, perokok sigaret akan mengalami penurunan fungsi paru-paru yang lebih cepat daripada bukan perokok. Semakin banyak sigaret yang dihisap, semakin besar kemungkinan terjadinya penurunan fungsi paru-paru.

PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN

  1. Tindakan
    • Kejang otot bisa dikurangi dengan memberikan bronkodilator, termasuk agonis reseptor beta-adrenergik (albuterol inhaler) dan theophylline per-oral (melalui mulut) yang diserap lambat.
    • Terapi oksigen jangka panjang akan memperpanjang hidup penderita PPOM yang berat dan penderita dengan kadar oksigen darah yang sangat rendah.
      Oksigen diberikan 12 jam/hari. Hal ini akan mengurangi kelebihan sel darah merah yang disebabkan menurunnya kadar oksigen dalam darah, memperbaiki fungsi mental dan memperbaiki gagal jantung akibat PPOM.
      Terapi oksigen juga bisa memperbaiki sesak nafas selama beraktivitas.
    • Untuk penderita dengan kekurangan alfa-1-antitripsin yang berat, bisa diberikan protein pengganti melalui pemberian protein melalui infus setiap minggu.
      Pencangkokan paru-paru bisa dilakukan pada penderita dibawah usia 50 tahun.
    • Pada penderita dengan emfisema yang berat, bisa dilakukan pembedahan yang disebut operasi reduksi volume paru-paru. Prosedurnya rumit dan penderita harus berhenti merokok setidaknya 6 bulan sebelum pembedahan dan menjalani program latihan intensif.
      Pembedahan akan memperbaiki fungsi paru-paru dan kemampuan berlatih

  1. Pencegahan

.

· Karena merokok sigaret merupakan penyebab paling penting dari PPOM, maka pengobatan utama adalah berhenti merokok. Menghentikan kebiasaan merokok pada saat penyumbatan airan udara masih ringan atau sedang, akan memperlambat timbulnya sesak nafas. Tetapi, berhenti merokok pada stadium manapun dari penyakit ini, pasti akan memberikan banyak keuntungan.
Penderita juga harus mencoba untuk menghindari pemaparan terhadap bahan iritan lainnnya di udara.

· Jika penderita mengalami influenza atau pneumonia, PPOM akan semakin memburuk dengan jelas. Karena itu, penderita PPOM harus mendapatkan vaksinasi influenza setiap tahun dan vaksinasi pneumokokus setiap 6 tahun atau lebih.

One Response

  1. bagus…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: